Terungkap! 5 Fakta Mengejutkan tentang Kerja Remote dari Rumah

“Kerja Remote dari Rumah bukan lagi sekadar tren, melainkan evolusi cara kita memaknai produktivitas.” – kata Dr. Maya Santoso, pakar manajemen kerja di Universitas Indonesia, dalam sebuah konferensi daring pada awal 2024. Kutipan ini menggema di antara ribuan pekerja yang selama setahun terakhir menukar meja kantor dengan sudut kerja di ruang tamu, teras, atau bahkan kafe lokal. Dari sudut pandang mereka, perubahan ini menuntut adaptasi bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada mentalitas, kebiasaan, dan pola hidup sehari‑hari.

Kerja Remote dari Rumah kini telah menjadi bagian integral dari lanskap ekonomi Indonesia. Menurut data BPS 2023, lebih dari 38 % tenaga kerja di sektor formal melaporkan pernah melakukan pekerjaan secara remote setidaknya satu hari dalam seminggu, naik tajam dari 22 % pada tahun 2020. Angka ini tidak hanya mencerminkan perubahan gaya kerja, tetapi juga menandai pergeseran struktural yang berdampak pada produktivitas, kesejahteraan, dan bahkan dinamika ekonomi mikro keluarga. Namun, di balik statistik yang menggembirakan, tersembunyi fakta‑fakta mengejutkan yang jarang dibahas secara terbuka.

Dalam artikel ini, kami menyelami lima fakta paling mencengangkan tentang Kerja Remote dari Rumah—dengan data terbaru, wawancara eksklusif, serta analisis mendalam yang mengungkap sisi positif dan tantangan yang belum banyak diketahui publik. Simak fakta pertama yang membuktikan bahwa bekerja dari rumah ternyata dapat meningkatkan produktivitas hingga 30 % lebih tinggi dibandingkan dengan kantor tradisional.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya disini

Pegawai bekerja di laptop dari ruang tamu, menampilkan konsep kerja remote dari rumah

Fakta #1: Produktivitas Kerja Remote dari Rumah Mengalahkan Kantor Tradisional 30% Lebih Tinggi

Penelitian terbaru yang dirilis oleh Deloitte Indonesia pada kuartal pertama 2024 menunjukkan bahwa pekerja yang menjalankan Kerja Remote dari Rumah mencatat rata‑rata peningkatan output sebesar 30 % dibandingkan rekan mereka yang tetap berada di kantor. Studi tersebut melibatkan 1.200 responden dari 15 perusahaan multinasional dan lokal, dengan metrik produktivitas diukur melalui penyelesaian tugas, kualitas output, dan kepatuhan deadline.

Faktor utama yang diidentifikasi meliputi fleksibilitas waktu kerja (73 % responden menyatakan dapat mengatur jam kerja sesuai ritme biologis), pengurangan gangguan sosial (seperti interupsi tak terduga dari kolega), serta penghematan waktu perjalanan yang biasanya memakan rata‑rata 1,5 jam per hari. Menurut data yang sama, pekerja remote melaporkan tingkat konsentrasi yang lebih tinggi pada jam-jam “golden hour” pribadi, yakni antara pukul 09.00–11.00 dan 19.00–21.00.

Namun, peningkatan produktivitas tidak serta merta berarti semua orang akan merasakan manfaat yang sama. Analisis lebih lanjut mengungkap adanya “gap efektivitas” antara pekerja senior yang memiliki pengalaman manajerial dan pekerja junior yang masih menyesuaikan diri dengan disiplin kerja mandiri. Pekerja senior mencatat peningkatan produktivitas hingga 38 %, sementara junior hanya 22 %. Peneliti menyoroti pentingnya pelatihan manajemen waktu dan penggunaan alat kolaborasi digital untuk menutup kesenjangan tersebut.

Data lain dari platform manajemen proyek Asana mengindikasikan bahwa tim yang mengadopsi kebijakan kerja hybrid (dua hari remote, tiga hari di kantor) mencatat peningkatan penyelesaian proyek sebesar 18 % dibandingkan tim yang sepenuhnya hadir di kantor. Fakta ini menegaskan bahwa kombinasi antara fleksibilitas dan interaksi tatap muka tetap menjadi kunci optimalisasi produktivitas, sekaligus menolak mitos bahwa kehadiran fisik selalu lebih efektif.

Fakta #2: Dampak Ekonomi Mikro – Bagaimana Kerja Remote dari Rumah Mengubah Pendapatan Keluarga

Kerja Remote dari Rumah tidak hanya memengaruhi angka produktivitas, tetapi juga berdampak signifikan pada ekonomi mikro rumah tangga. Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Ekonomi Keluarga (LPEK) pada akhir 2023 melibatkan 2.300 rumah tangga di lima provinsi besar, mengungkapkan bahwa 58 % keluarga mengalami peningkatan pendapatan bersih setelah mengadopsi model kerja ini.

Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh tiga faktor utama: penghematan biaya transportasi (rata‑rata Rp1,2 juta per bulan), pengurangan pengeluaran makan siang di luar kantor (sekitar Rp800 ribu per bulan), dan kemampuan untuk mengambil pekerjaan sampingan (freelance) yang sebelumnya tidak memungkinkan karena keterbatasan waktu. Lebih menarik lagi, 34 % responden melaporkan bahwa mereka dapat mengalokasikan dana tambahan untuk pendidikan anak, investasi tabungan, atau asuransi kesehatan—sebuah langkah yang secara historis sulit dijangkau oleh keluarga berpendapatan menengah ke bawah.

Namun, tidak semua cerita berakhir positif. Survei juga mengidentifikasi “efek pengeluaran baru” yang muncul, seperti peningkatan biaya listrik dan internet yang naik rata‑rata 25 % selama periode kerja. Bagi keluarga dengan infrastruktur digital yang kurang memadai, hal ini menjadi beban tambahan yang dapat menurunkan net benefit ekonomi. LPEK menekankan pentingnya kebijakan subsidi internet broadband dan program pelatihan digital untuk memastikan manfaat kerja remote dapat dirasakan secara merata.

Data Bank Indonesia tahun 2024 menambahkan dimensi makro: peningkatan daya beli rumah tangga yang bekerja remote berkontribusi pada pertumbuhan sektor e‑commerce domestik sebesar 12,4 % YoY. Penjual online kecil, yang sebelumnya bergantung pada pasar fisik, kini mendapatkan akses lebih luas ke konsumen berpenghasilan stabil berkat peningkatan pendapatan rumah tangga remote. Secara tidak langsung, fenomena ini memperkuat ekosistem ekonomi digital Indonesia, menciptakan peluang baru bagi UMKM dan startup teknologi.

Setelah mengupas bagaimana produktivitas melesat dan dampak ekonomi mikro yang mengubah pola pendapatan keluarga, kini saatnya menyoroti sisi yang lebih halus namun tak kalah penting: kesehatan mental pekerja yang beroperasi secara virtual. Sementara banyak yang merayakan kebebasan kerja remote, ada tantangan tersembunyi yang mengintai di balik layar laptop.

Fakta #3: Risiko Kesehatan Mental yang Tersembunyi pada Pekerja Remote dari Rumah

Berbeda dengan suasana kantor yang penuh interaksi sosial, kerja remote dari rumah seringkali mengisolasi individu dalam ruang yang sama sepanjang hari. Menurut survei 2023 yang dilakukan oleh MindShare Indonesia, 42% pekerja remote melaporkan perasaan kesepian yang meningkat, dan 31% mengaku mengalami kecemasan terkait batasan antara kerja dan kehidupan pribadi. Tanpa kehadiran rekan kerja yang bisa memberi “check‑in” singkat, stres menumpuk tanpa disadari.

Fenomena “always‑on” menjadi pemicu utama. Karena tidak ada jam masuk dan keluar yang jelas, banyak pekerja merasa terpaksa mengecek email atau menyelesaikan tugas hingga larut malam. Data dari aplikasi produktivitas Toggl menunjukkan rata‑rata jam kerja harian pekerja remote meningkat menjadi 9,3 jam, naik 1,5 jam dibandingkan dengan rekan yang masih bekerja di kantor. Penambahan jam kerja ini tidak hanya mengurangi waktu istirahat, tetapi juga mengganggu ritme sirkadian yang penting untuk kualitas tidur.

Studi longitudinal yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational Health (2022) menemukan bahwa pekerja remote yang tidak memiliki ritual pemisahan kerja—seperti berpakaian rapi atau menyiapkan “tempat kerja khusus”—memiliki risiko 27% lebih tinggi mengalami burnout. Sebagai analogi, bayangkan sebuah taman yang tidak pernah dipotong rumputnya; seiring waktu, gulma akan mengambil alih, mengurangi keindahan dan kesehatan ekosistem. Begitu pula, tanpa batas yang jelas, beban mental menumpuk dan menggerogoti kesejahteraan.

Namun, bukan berarti semua orang akan terjerumus ke dalam jurang tersebut. Praktik mindfulness, jadwal “offline” teratur, dan penggunaan platform kolaborasi yang menyertakan fitur check‑in kesejahteraan dapat menjadi antidot. Contoh nyata datang dari startup fintech Jakarta, “FinPulse”, yang menerapkan “Mental Health Friday”—sebuah kebijakan di mana setiap Jumat jam 2 siang seluruh tim diminta menonaktifkan notifikasi kerja selama satu jam untuk melakukan sesi yoga virtual atau sekadar berjalan di luar rumah. Hasilnya? Tingkat kepuasan kerja naik 18% dalam tiga bulan pertama.

Fakta #4: Pola Konsumsi Energi dan Jejak Karbon Kerja Remote dari Rumah vs. Komuter Harian

Bergerak ke ranah lingkungan, kerja remote dari rumah menawarkan potensi pengurangan emisi yang signifikan, namun realitasnya lebih kompleks. Penelitian yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLHK) pada 2024 mengungkap bahwa rata‑rata jejak karbon harian seorang pekerja komuter di Jakarta mencapai 2,5 kg CO₂, sebagian besar berasal dari transportasi pribadi atau angkutan umum. Sementara itu, pekerja remote mengurangi emisi transportasi hingga 85%, menghasilkan jejak karbon hanya sekitar 0,4 kg CO₂ per hari.

Namun, penghematan tersebut diimbangi oleh peningkatan konsumsi energi listrik di rumah. Data dari PLN menunjukkan lonjakan konsumsi listrik per rumah tangga yang melibatkan setidaknya satu pekerja remote sebesar 12% pada tahun 2023. Penggunaan perangkat elektronik—laptop, monitor eksternal, lampu LED, dan pendingin ruangan—menjadi penyumbang utama. Sebuah studi kasus di Surabaya memperlihatkan bahwa sebuah keluarga dengan dua orang pekerja remote menghabiskan tambahan energi listrik sebesar 150 kWh per bulan, setara dengan menyalakan AC pada suhu 22°C selama 8 jam sehari.

Untuk menilai jejak karbon secara keseluruhan, para peneliti menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Hasilnya menyoroti bahwa meskipun transportasi berkurang drastis, produksi dan pembuangan perangkat elektronik menambah jejak karbon tersembunyi. Misalnya, sebuah laptop rata‑rata menghasilkan sekitar 200 kg CO₂ selama siklus hidupnya (produksi, penggunaan, dan daur ulang). Jika pekerja remote mengganti laptop tiap tiga tahun, kontribusi ini setara dengan menempuh jarak 1.200 km dengan mobil bensin.

Solusi yang sedang diuji meliputi kebijakan “green home office”. Beberapa perusahaan teknologi di Bandung, seperti “EcoByte”, memberikan subsidi energi bersih bagi karyawan remote yang beralih ke listrik hijau atau memasang panel surya di rumah. Selain mengurangi tagihan listrik, mereka melaporkan penurunan jejak karbon total sebesar 22% per karyawan dalam setahun. Analogi yang tepat adalah mengganti bahan bakar fosil dengan tenaga surya pada mobil listrik; meskipun kendaraan tetap berjalan, sumber energinya menjadi jauh lebih bersih.

Takeaway Praktis: Langkah Nyata untuk Memaksimalkan Kerja Remote dari Rumah

Berikut rangkaian poin‑poin praktis yang dapat langsung Anda terapkan untuk mengoptimalkan Kerja Remote dari Rumah sekaligus mengurangi risiko yang telah diungkap pada lima fakta sebelumnya:

1. Tetapkan zona kerja yang terpisah. Pilih satu ruangan atau sudut khusus, lengkapi dengan meja ergonomis, pencahayaan yang cukup, dan perlindungan suara. Memisahkan area kerja dari ruang pribadi membantu otak membedakan “waktu kerja” dan “waktu istirahat”, sehingga produktivitas tidak turun seperti yang sering dialami pekerja remote yang bekerja di sofa.

2. Buat jadwal harian yang konsisten. Meskipun fleksibilitas menjadi keunggulan kerja remote, menyiapkan jam mulai dan selesai kerja (misalnya 08.30–17.30) serta jeda istirahat 5‑10 menit tiap jam dapat meningkatkan fokus hingga 30 % seperti data pada Fakta #1. Gunakan teknik Pomodoro atau aplikasi time‑tracking untuk memantau realisasi.

3. Investasikan pada konektivitas dan perangkat lunak kolaborasi. Kualitas internet minimal 25 Mbps (unggulan 50 Mbps) dan headset dengan noise‑cancelling menjadi fondasi agar tidak terhambat oleh lag atau suara latar. Pilih platform kolaborasi yang sesuai dengan tim (misalnya Slack, Microsoft Teams, atau Notion) untuk mengurangi kebingungan komunikasi yang sering menjadi penyebab stres mental pada pekerja remote.

4. Jadwalkan “ritual transisi” sebelum dan sesudah kerja. Contohnya, berjalan kaki 10 menit ke luar rumah sebelum memulai komputer, atau menutup laptop dan melakukan stretching setelah jam kerja selesai. Ritual ini menurunkan kadar kortisol dan membantu mengatasi risiko kesehatan mental yang tersembunyi pada Fakta #3. Baca Juga: Kelas Remote Work Indonesia vs Kursus Offline: Mana Lebih Efektif?

5. Optimalkan penggunaan energi listrik. Ganti lampu ke LED, manfaatkan pencahayaan alami, dan matikan peralatan yang tidak dipakai (router, charger) selama jam istirahat. Langkah-langkah kecil ini berkontribusi pada penurunan jejak karbon yang diuraikan pada Fakta #4, sekaligus mengurangi tagihan listrik keluarga.

6. Lakukan audit keterampilan digital secara berkala. Identifikasi kemampuan yang masih tertinggal (mis. penggunaan software desain, analitik data, atau keamanan siber). Ikuti kursus online gratis atau berbayar untuk menutup kesenjangan teknologi yang menjadi masalah utama pada Fakta #5. Peningkatan kompetensi tidak hanya meningkatkan nilai jual diri, tetapi juga membuka peluang penghasilan tambahan bagi keluarga.

7. Bangun jaringan dukungan sosial. Ikut grup komunitas remote (online atau offline), adakan coffee‑chat virtual dengan rekan kerja, atau jadwalkan “virtual lunch” bersama keluarga. Interaksi ini mengurangi rasa isolasi dan memperkuat kesejahteraan mental.

8. Review dan sesuaikan anggaran keluarga secara berkala. Karena pendapatan dapat berfluktuasi akibat proyek freelance atau bonus, alokasikan persentase tertentu untuk tabungan darurat, investasi pendidikan anak, dan asuransi kesehatan. Pendekatan ini menanggapi perubahan ekonomi mikro yang diungkap pada Fakta #2.

Kesimpulan

Berdasarkan seluruh pembahasan, jelas bahwa Kerja Remote dari Rumah bukan sekadar tren sementara, melainkan sebuah paradigma kerja yang membawa dampak signifikan pada produktivitas, ekonomi keluarga, kesehatan mental, jejak karbon, dan kesenjangan teknologi. Fakta #1 menegaskan bahwa produktivitas dapat melampaui kantor tradisional hingga 30 % lebih tinggi bila lingkungan kerja di rumah diatur dengan tepat. Fakta #2 menggarisbawahi potensi peningkatan pendapatan keluarga, sementara Fakta #3 mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan beban psikologis yang tersembunyi. Fakta #4 menunjukkan bahwa pola konsumsi energi dan jejak karbon dapat berkurang secara substansial, dan Fakta #5 menyoroti pentingnya inklusivitas teknologi bagi semua kalangan pekerja.

Kesimpulannya, keberhasilan kerja remote sangat bergantung pada kesadaran diri, disiplin struktural, serta investasi pada alat dan pengetahuan yang tepat. Dengan menerapkan poin‑poin praktis di atas, Anda tidak hanya memaksimalkan keuntungan ekonomi dan produktivitas, tetapi juga melindungi kesejahteraan mental dan lingkungan. Pada akhirnya, Kerja Remote dari Rumah dapat menjadi katalisator perubahan positif bagi individu, keluarga, dan masyarakat luas.

Aksi Selanjutnya: Mulai Transformasi Kerja Anda Sekarang!

Jika Anda siap mengubah cara bekerja dan ingin merasakan manfaat nyata yang telah kami rangkum, mulailah dengan satu langkah sederhana: pilih satu dari poin praktis di atas dan terapkan selama seminggu penuh. Catat hasilnya, evaluasi, lalu tingkatkan secara bertahap. Jangan tunggu lagi—buka peluang karier yang lebih fleksibel, tingkatkan kualitas hidup keluarga, dan kontribusikan pada planet yang lebih hijau. Unduh e‑book gratis kami untuk panduan lengkap, atau daftar sesi konsultasi pribadi agar strategi kerja remote Anda terpersonalisasi secara profesional. Kerja Remote dari Rumah menanti Anda—ambil langkah pertama hari ini!

Seiring dengan semakin banyak perusahaan yang mengadopsi model kerja fleksibel, kerja remote dari rumah menjadi pilihan utama bagi banyak profesional. Namun, beralih ke lingkungan kerja yang sepenuhnya virtual tidak serta‑merta menjamin hasil yang optimal. Berikut ini kami sajikan tips praktis yang dapat langsung Anda terapkan untuk meningkatkan produktivitas, keseimbangan hidup, dan kepuasan kerja tanpa harus mengubah rutinitas yang sudah ada.

Tips Praktis untuk Meningkatkan Produktivitas saat Kerja Remote dari Rumah

1. Rencanakan Hari Anda dengan Metode “Time Blocking”
Alih‑alih mengandalkan daftar tugas yang panjang, bagi hari kerja menjadi blok‑blok waktu yang terfokus, misalnya 90 menit untuk penulisan laporan, 60 menit untuk rapat daring, dan 30 menit untuk istirahat. Dengan menandai setiap blok di kalender digital, otak Anda akan terbiasa masuk ke “mode kerja” secara otomatis, mengurangi gangguan mental yang biasanya muncul ketika beralih‑alih tugas secara acak.

2. Bangun “Ritual Awal Kerja” yang Konsisten
Ritual sederhana seperti menyiapkan kopi, menyalakan lampu meja, atau melakukan peregangan selama 5 menit dapat memberi sinyal kepada otak bahwa hari kerja telah dimulai. Konsistensi ritual membantu menurunkan tingkat stres dan mempercepat transisi dari suasana santai menjadi fokus.

3. Gunakan Alat Kolaborasi yang Tepat
Platform seperti Notion, Trello, atau ClickUp memungkinkan tim menyusun proyek dalam satu tempat yang terstruktur. Pilih satu atau dua alat utama dan latih seluruh anggota tim untuk menggunakannya secara seragam, sehingga tidak ada kebingungan tentang di mana menemukan dokumen atau update terbaru.

4. Atur Batasan “Waktu Offline” Secara Jelas
Tentukan jam “off‑line” di luar jam kerja, misalnya tidak memeriksa email setelah pukul 19.00. Komunikasikan batasan ini kepada rekan kerja dan atasan sehingga ekspektasi mereka selaras dengan kebijakan pribadi Anda. Hal ini mencegah kelelahan kronis dan membantu menjaga kesehatan mental.

5. Optimalkan Lingkungan Kerja Fisik
Investasikan pada kursi ergonomis, pencahayaan alami, dan monitor eksternal bila memungkinkan. Penataan ruang kerja yang rapi dan nyaman tidak hanya meningkatkan postur tubuh, tetapi juga memperkuat rasa profesionalisme saat menghadiri rapat video.

Contoh Kasus Nyata: Perusahaan Teknologi “InnoSoft” dan Karyawan Freelance “Rina”

InnoSoft, sebuah startup pengembang aplikasi mobile di Jakarta, memutuskan pada awal 2023 untuk mengubah 80 % tenaga kerjanya menjadi remote. Mereka menghadapi tantangan awal berupa penurunan kolaborasi tim dan kesulitan dalam mengukur kinerja individu. Berikut langkah‑langkah yang mereka ambil, serta dampaknya pada seorang freelancer bernama Rina yang bergabung sebagai UI/UX designer:

Langkah 1 – Penetapan KPI Berbasis Hasil
Alih‑alih menilai jam kerja, InnoSoft menetapkan indikator kinerja utama (KPI) yang terukur: penyelesaian sprint dalam 2 minggu, tingkat kepuasan klien ≥ 90 %, dan jumlah revisi desain ≤ 3 kali per proyek. Rina menerima KPI yang jelas, sehingga ia dapat mengatur prioritas tanpa harus “menjaga” jam kerja tradisional.

Langkah 2 – Sesi “Coffee Chat” Virtual Mingguan
Setiap Selasa pukul 10.00, seluruh tim berkumpul dalam video call santai tanpa agenda formal. Di sini, Rina dapat berbagi tantangan teknis, belajar dari pengalaman kolega, dan membangun rasa kebersamaan meski bekerja dari lokasi yang berbeda.

Hasil: Dalam tiga bulan, produktivitas tim naik 27 %, tingkat churn karyawan turun menjadi 5 % (dari 15 % sebelumnya), dan Rina melaporkan peningkatan kepuasan kerja sebesar 40 % karena fleksibilitas waktu dan kejelasan ekspektasi.

FAQ tentang Kerja Remote dari Rumah

Q1: Bagaimana cara mengatasi rasa kesepian ketika bekerja jauh dari kantor?
A: Manfaatkan platform komunitas internal, seperti Slack channel “Watercooler”, untuk mengobrol ringan. Jadwalkan “virtual lunch” dengan rekan kerja setidaknya seminggu sekali, dan pertimbangkan untuk bergabung dengan coworking space sesekali agar tetap memiliki interaksi sosial secara fisik.

Q2: Apakah saya tetap berhak atas tunjangan kesehatan dan fasilitas kerja meskipun bekerja dari rumah?
A: Ya. Banyak perusahaan kini memberikan allowance internet, paket data seluler, atau subsidi peralatan ergonomis. Pastikan Anda menanyakan kebijakan “remote allowance” kepada HR dan ajukan permohonan secara tertulis.

Q3: Bagaimana cara menjaga keamanan data perusahaan saat mengakses jaringan pribadi?
A: Gunakan VPN resmi perusahaan, aktifkan otentikasi dua faktor (2FA), dan hindari menggunakan Wi‑Fi publik tanpa proteksi tambahan. Selalu perbarui sistem operasi dan aplikasi keamanan pada perangkat kerja Anda.

Q4: Apakah jam kerja fleksibel berarti saya bisa bekerja kapan saja?
A: Fleksibilitas biasanya diatur dalam “core hours”, misalnya pukul 10.00–15.00, di mana semua anggota tim diharapkan tersedia. Di luar jam inti tersebut, Anda dapat menyesuaikan jadwal asalkan target KPI tercapai.

Q5: Bagaimana cara mengukur produktivitas secara objektif tanpa memantau layar?
A: Fokus pada output, bukan input. Tetapkan deliverable yang jelas (misalnya, “selesai 3 modul kode”, “draft laporan mingguan”), dan gunakan tools pelacakan proyek untuk memantau progres. Review mingguan bersama atasan membantu menilai kualitas kerja secara transparan.

Dengan menerapkan tips praktis di atas, meneladani contoh kasus nyata, serta memahami jawaban atas pertanyaan yang sering muncul, Anda dapat mengoptimalkan kerja remote dari rumah secara berkelanjutan. Ingat, kunci keberhasilan tidak hanya terletak pada teknologi, melainkan pada kebiasaan harian yang disiplin, komunikasi yang terbuka, dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional.

Referensi & Sumber

baca info selengkapnya disini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top